Wednesday, May 10, 2017

Wahai Millennial Pembelajar: Kenapa Harus Bayar Kalau Bisa Bertukar Ilmu?

Sumber:Pexels

Namanya juga millennials, tidak pernah lelah mencari hal-hal baru yang menarik, menggugah semangat, dan yang paling penting menghilangkan rasa jenuh. Di era digital yang gemerlap ini, kaum millennials (termasuk saya) selalu memiliki keinginan lebih untuk mencoba hal-hal baru meskipun sudah punya bidang yang digeluti. Padahal, tidak jarang generasi yang lebih senior geleng-geleng kepala sambil mengelus dada dan menggumam "Maunya apa sih mereka ini, sudah punya pekerjaan bukannya fokus."

Generasi yang banyak maunya, maunya banyak

Kaum millennials dinilai pasti selalu ada saja 'pingin'-nya. Contohnya, ingin kerja kantoran bergengsi tapi punya usaha sendiri (jualan mi babi misalnya -- oke saya bercanda) atau suka ambil proyek freelance kecil-kecilan di samping profesi sebagai karyawan di ahensi besar internasional. Merasa familiar? Welcome to #millennialslyfe.

Sebenarnya, apa sih yang dicari? Ada yang bilang secara gamblang kepada saya bahwa yang dikejar adalah uang tambahan, karena gaji dari pekerjaan sekarang kurang dari cukup untuk tabungan pernikahan. Very straightforward. Wajar kalau uang menjadi salah satu motivasi utama, sekaligus hal yang menakutkan bagi millennials yang katanya nggak akan bisa beli rumah.

Selain itu, ada juga yang memilih untuk mencari pekerjaan tambahan karena alasan lifestyle. Ada kok salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa uang yang ia dapatkan dari pekerjaan-pekerjaan sampingan ini ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan lifetsyle yang harus ia penuhi sebagai makhluk yang tinggal di tengah riuhnya kota Jakarta -- nongkrong, makan di restoran, dan sebagainya.

Kali ini, yang saya ingin bahas kali ini adalah sebuah kebutuhan lain dari kaum millennials dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, yaitu belajar.
"Belajar? yekali deh."
Loh iya, belajar. Walaupun terkesan membosankan dan terlampau serius, ini adalah sebuah fakta yang dihadapi sebagian besar millennials dalam usia produktifnya. Saya sendiri menyadari bahwa pekerjaan dengan gaji yang cukup saja justru tidak cukup, karena sifatnya fungsional. Kita membutuhkan gaji karena dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, alat tukar resmi yang digunakan adalah uang.

Belajar Apa yang Dimaksud?

Sumber: ellispond.com

Sekarang, coba lihat keadaan di sekitar. Berapa banyak temanmu yang sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya karena merasa 'gitu-gitu aja' karena tenggelam dalam rutinitas atau 'merasa tidak berkembang'? Pasti banyak. Menurut majalah Forbes, Pengembangan kemampuan diri (belajar) adalah salah satu manfaat kerja yang paling penting bagi kaum millennials. 

Saat kita tidak merasa belajar sesuatu, pada akhirnya kita akan merasa kurang 'hidup'. Istilah 'kurang hidup' ini ada banyak cara penyampaiannya, mulai dari 'ah, gw jenuh', 'kerjaan gue kurang challenging', 'butuh variasi', dan sebagainya. Jangan salah, keinginan belajar yang tidak terpenuhi ini bukan berarti disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang sekarang, lho. Menurut pendapat pribadi saya (boleh setuju boleh tidak), bisa dibilang orang-orang yang berhenti dari pekerjaannya karena kurang 'belajar' ini, sebenarnya lebih tepatnya kekurangan waktu untuk bisa melakukan eksplorasi dan belajar hal lain di luar pekerjaan tetap yang sudah menjadi tugasnya.

Kebutuhan untuk belajar ini hanyalah kebutuhan berbeda yang ingin didapatkan di luar bidang yang memang sudah ditekuni. Misalnya seorang akuntan, yang ingin mahir dalam berbagai bahasa. Atau seorang programmer, yang ternyata punya keinginan terpendam untuk jadi pelari marathon. Atau seperti saya, seorang digital marketer yang ingin belajar menulis, video editing, masak, lalu ah.... sudahlah.

Ide Mentah: Mempermudah yang Seharusnya Mudah

Sayangnya, banyak kendala yang dihadapi. Sebagian kendala yang paling sering ditemui adalah uang, karena walaupun terdapat banyak kursus, dari yang terpampang di mall sampai yang dipromosikan di akun-akun Instagram bertema kekinian, merogoh kocek pribadi untuk kursus seringkali terasa berat. Berangkat dari situasi ini dan kesadaran saya bahwa setiap orang diberkati dengan talenta yang berbeda-beda, maka tercetuslah sebuah ide yang saya sebut 'barter ilmu'.


Apa itu barter ilmu?

Sumber: Time Out London
Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa aset terbesar yang kita miliki adalah waktu. Harta, tahta, dan wanita sering jadi tujuan utama seseorang dalam menjalani hidup, tapi waktu tidak bisa kembali dan tidak bisa dibeli #eyaa. Kemudian, hal berharga apa lagi yang ketika dibagikan justru semakin bertambah dan tidak akan habis? Jawabannya adalah ilmu.

Sebelum kamu muntah baca tulisan barusan, please bear with me for another minute. 

Mungkin bukan saya orang pertama yang terpikirkan ide ini, tapi konsep barter ilmu yang saya pikirkan adalah proses dengan langkah-langkah seperti ini:

1. Menyadari kemampuan yang dimiliki

Pertama, pikirkan kemampuan apa yang kamu miliki. Tidak harus jago-jago banget- sesuai kemampuanmu saat ini saja. Ini bisa saja sesuatu yang sangat kamu suka, bisa yang sifatnya teknis seperti programming kalau anda anak IT yang suka coding (jelas saya bukan salah satunya), sampai hal-hal yang terkesan sepele tapi sebenarnya adalah sebuah talenta (sesederhana mengatur pose kece temanmu yang hobinya foto OOTD).

2. Ingin belajar apa?

Sudah ketemu? Masuk ke langkah kedua. Pikirkan apa kemampuan atau ilmu yang selama ini ingin kamu pelajari tapi terkendala berbagai hal. Mulai dari waktu, biaya (karena segala macam kursus, terutama yang ada di kota besar semakin nggak ngotak harganya), sampai niat (karena anda orang yang suka banyak alasan -- seperti saya). Ingin jago presentasi? Lebih disiplin waktu? Bisa masak? You name it. Sebagai awalan, cukup pilih salah satu.

3. Be the one they need, find the one you need

Selanjutnya, pikirkan siapa yang punya kemampuan ini dan mampu membagi ilmunya dengan baik. Kemudian, pikirkan siapa yang sekiranya akan tertarik untuk mempelajari ilmu yang kamu punya. Sudah? Cari orang yang memenuhi kedua kriteria di atas.

Lewat mana? Kamu bisa mencarinya lewat jaringan pertemananmu. Saya pribadi mengamati jaringan pertemanan saya lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter karena dari situ saya mendapatkan gambaran mengenai kemahiran teman-teman saya dan apa yang sekiranya mereka butuhkan.
Selain itu, melalui internet kamu bisa mulai aktif di forum atau media sosial. Rekomendasi pribadi saya untuk membangun jaringan profesional (sekaligus jaringan ilmu) adalah LinkedIn dan Quora.

4. Langkah berikutnya: shoot the question!

This could be a little tricky, but it actually challenges you to be able to 'market' yourself / your skills.
Misalnya, kamu ingin barter ilmu marketingmu dengan kemampuan mengedit video-video keren ala Youtuber yang dimiliki oleh temanmu.

Mulai dengan percakapan santai seperti ini: 'Hey, video-video yang lo buat keren banget efek-efeknya! belajar dari mana?' *kemudian dia akan menjawab 'oh gue belajar sendiri, oh gue ngeles' dan sebagainya*. Kemudian, karena kamu mengetahui bahwa dia adalah seorang Youtuber (misalnya) dan dia memerlukan pengetahuan lebih lanjut mengenai Youtube marketing -- sedangkan kamu paham betul bidang ini karena ini bidang pekerjaanmu -- kamu bisa bilang 'Eh, gimana kalau kita barter ilmu? Gue pengen belajar mengenai video editing dari lo, dan sebagai timbal baliknya gue bisa berbagi hal yang gue tahu mengenai Youtube marketing supaya Youtube channel lu banyak yang subscribe dan video views lu bertambah banyak. Gimana?'

What makes it so special?

Sumber: Pexels

This way, what you are offering to exchange is special: a free knowledge. Memang, belajar segala sesuatu secara gratis juga bisa dilakukan secara otodidak. Belajar bahasa asing misalnya, kamu bisa menemukan banyak free online course di situs-situs seperti iniBut having a friend who knows better about the field + guides you through your learning is certainly an advantage.

Selain itu, dengan saling bertukar ilmu, kamu tidak hanya bertambah pandai dalam ilmu 'gratis' yang kamu dapatkan dari temanmu ini -- kamu juga semakin pandai dalam ilmu yang kamu bagikan. Seperti pepatah "When you teach, you learn" dari seorang filsuf bernama Seneca: pada logika mendasarnya, untuk bisa mengajari atau berbagi ilmu dengan orang lain kamu tentu harus memiliki tingkat pemahaman tertentu. Berbeda dengan mengonsumsi ilmu untuk diri kita sendiri, agar dapat berbagi ilmu dengan baik kita harus jauh lebih memahami ilmu tersebut.
"This way, what you are offering to exchange is special: a free knowledge."
Ditambah lagi, ini bukan hanya sebuah pepatah atau teori, karena sudah terdapat berbagai studi yang membuktikan bahwa seseorang yang belajar membagikan ilmunya pada orang lain pada akhirnya akan menjadi jauh lebih paham akan ilmu itu sendiri. You will learn better.

Intinya? Kembali ke Preferensi Masing-masing

Memang, konsep ini dapat bertentangan dengan berbagai pendapat. Misalnya, ada yang merasa lebih baik kursus karena merasa mampu membayar dan tidak perlu 'menghabiskan' waktu mengajari orang lain. Kedua, mungkin sulit untuk menemukan ilmu yang dapat kamu bagikan kepada orang lain. Ketiga, mungkin kamu kurang percaya diri bahwa ilmu dan kemampuan yang kamu miliki cukup 'berharga' untuk dibagikan, apalagi ditukarkan dengan ilmu yang ingin kamu dapatkan dari orang lain.

Pertama, kalau memang kamu merasa punya uang dan lebih suka untuk bayar (menggunakan uang, tentunya) untuk kursus karena lebih sederhana dan tidak ribet serta adanya jaminan untuk belajar dari seseorang yang tersertifikasi (misalnya), then it's totally fine. Semua orang memiliki preferensinya sendiri dalam melakukan sesuatu dan saya menghormati itu. Tapi untuk kamu yang sedang mencari alternatif berbeda dalam menambah kemampuan atau belajar hal-hal baru, mungkin ini bisa jadi salah satu cara.

Kedua. Kamu merasa ilmu yang kamu punya kurang berharga? Mungkin kamu perlu berkunjung sebentar ke situs bernama Fiverr. Apa itu? Fiverr adalah sebuah situs online yang memungkinkan siapapun untuk menawarkan jasanya dengan harga semurah $5 saja. Jangan salah, banyak orang yang mampu menjual jasa yang terkesan sepele, bahkan terlihat lucu dan sedikit nyeleneh seperti jasa edit dan pilih foto profil online dating di Tinder. Benar, sesederhana itu. Nah bedanya, dengan platform seperti ini, kamu bisa menjual apa saja dengan imbalan uang. Sedangkan dengan sistem barter ilmu, yang kamu dapatkan adalah ilmu. Masih merasa kamu tidak punya kemampuan apa-apa atau kemampuanmu tidak berharga?  Think again. Selain itu, ada banyak alasan kenapa kamu sebaiknya mulai berbagi ilmu walaupun kamu belum expert dalam suatu bidang. Ini salah satu artikel yang menjelaskannya dengan cukup baik.

---

Sampai pada poin ini, mungkin kamu yang membaca ini akan berpikir, "Will it be worth it?" "Will it work?". Sejujurnya, saya sendiri belum dapat menjamin, tapi saya ingin memulainya. Di dunia yang serba cinta uang saat ini memang terkesan mustahil untuk mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma, bukan? Wajar kalau ada banyak orang yang membaca artikel ini menjadi ragu, lalu skeptis.

Tapi, saya yakin bahwa saya bukan satu-satunya orang yang memiliki pemikiran bahwa ilmu lebih berharga daripada uang; uang mungkin dapat membuatmu kaya secara jasmani, tapi hanya ilmu yang dapat memenuhi jiwa dan akal budi.

Bagaimana menurutmu, apakah konsep barter ilmu ini menarik untuk ditindaklanjuti? Saya sih mau segera mencoba. Atau ada yang tertarik mencoba barter ilmu dengan saya? :))

"Kalau millennials seperti kita banyak maunya, apa barter ilmu bisa jadi salah satu solusi?"

Selamat berkontemplasi dan silakan berkomentar.

Friday, February 24, 2017

Bukan Mustahil Menembus 8 Universitas UK Untuk S2, Asalkan Motivation Lettermu Memenuhi Hal ini

Catatan penting:


Ulasan ini ditulis berdasarkan pengalaman dari dua orang yang berbeda di tahun yang berbeda pula, namun sama-sama melamar di kampus-kampus ternama Britania Raya. Meskipun kami melalui proses dan tantangan yang berbeda, dari pengalaman kami, kami sama-sama ingin menekankan satu elemen krusial dalam proses mendaftar universitas luar negeri, yakni: motivation letter.


Tulisan ini tidak dibuat untuk 'mendikte' kamu tentang apa yang idealnya harus kamu lakukan, melainkan untuk memberikan gambaran dan masukan serta referensi yang dapat kamu pelajari dari sepetik pengalaman ini. Agar nantinya kamu bisa membekali dirimu dengan 'senjata' berupa motivation letter yang telah diasah dengan penuh kecermatan, sehingga siap digunakan untuk 'bertempur' di medan bernama 'University.

Sepenting apa sih motivation letter?

Bagi yang memiliki rencana untuk berkuliah di luar negeri, biasanya ada serangkaian persyaratan yang harus dipenuhi agar aplikasi pendaftaran dapat dipertimbangkan. Tidak hanya persyaratan yang bersifat kuantitatif seperti transkrip nilai dan IPK, mayoritas universitas di luar negeri juga mewajibkan calon mahasiswa untuk menulis motivation letter atau disebut juga personal statement.

Motivation letter adalah salah satu faktor terbesar yang menentukan diterima atau tidaknya kamu di sebuah universitas. Mengapa demikian? Ibarat 'juru bicara', motivation letter berfungsi sebagai penyampai motivasimu mendaftar ke universitas tujuan. Melalui motivation letter, pihak universitas dapat mengenalmu secara pribadi. Hal ini lah yang menjadi bahan pertimbangan penting dari seorang kandidat magister.

Sebagai introduksi, saya mendaftar kuliah S2 di empat Universitas di UK: University of Manchester, University of Leeds, University of Edinburgh, dan University of Warwick pada akhir tahun 2015. Empat universitas ini saya pilih karena unggul pada bidang bisnis dan manajemen, sesuai dengan bidang studi yang ingin saya tekuni. Sedangkan rekan saya mengirim aplikasi ke lima kampus di akhir tahun 2014: University of Birmingham, University of Bristol, University of Sheffield, University of Sussex, dan University of Manchester. Kelimanya ia pilih karena semua kampus tersebut memiliki pusat studi yang cukup progresif di bidang pembangunan internasional, selaras dengan disiplin ilmu yang ia minati.

Secara umum, tujuh dari delapan universitas di atas masuk dalam daftar 50 Universitas terbaik di dunia versi QS World University Ranking 2015/2016. Suatu kegembiraan bagi kami saat mengetahui bahwa kami mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari semua universitas tersebut.

Apa saja yang hal yang harus ditonjolkan dalam Motivation Letter?


Berkaca pada pengalaman mendaftar di delapan universitas tersebut, kami pun menganalisis faktor-faktor pada motivation letter kami yang membuat kami diterima. Dari analisis tersebut, kami berkesimpulan bahwa motivation letter yang memenuhi kriteria di bawah ini lah yang menjadikan kami kandidat yang berhasil menembus seleksi:
  1. Alasan memilih universitas


Terdapat dua macam alasan yang wajib dikemukakan dalam sebuah motivation letter. Pertama, jelaskan tentang aspek akademis yang mendorongmu untuk memilih suatu universitas. Contohnya adalah keunggulan riset, peringkat universitas atau program studi, fasilitas, dan teknologi tertentu yang akan mendukung kegiatan belajarmu.

Selain itu, kamu juga bisa memaparkan mata kuliah yang ingin kamu ambil untuk mendukung tujuan studimu. Maka, pastikan telah melakukan riset secara mendalam terhadap universitas yang kamu pilih.

Kedua, untuk mendukung alasan akademis yang kamu utarakan, pertimbangan non akademis seperti suasana kota, biaya hidup, organisasi Persatuan Pelajar Indonesia, dan keberagaman komunitas-komunitas etnis maupun budaya juga dapat ditambahkan supaya Universitas semakin yakin dengan keinginanmu untuk kuliah di sana.

Dengan kata lain, anggaplah kamu sedang menyanjung universitas, namun tidak secara buta karena didasari oleh data. Jadi, bukan bermaksud untuk ‘menjilat’ universitas demi sebuah kursi, melainkan menunjukkan bahwa kita telah memahami profil universitas tujuan dengan baik.
  1. Latar belakang studi, pengalaman, dan minat


Hal selanjutnya yang penting untuk disampaikan dalam motivation letter adalah siapa dirimu dan dimana kamu telah berkiprah. Sebagai contoh, pada motivation letter saya menceritakan bagaimana perjalanan kuliah S1 saya pada bidang Teknik Informatika membawa saya kepada eksplorasi dunia pemasaran digital setelah lulus. Latar belakang ini yang membuat saya pada akhirnya memutuskan untuk memperdalam ilmu di bidang pemasaran dengan mengambil studi magister.

Di dalam motivation letter sebaiknya terdapat benang merah antara studi, pengalaman, dan minat yang pada akhirnya mendukung alasanmu untuk melanjutkan studi ke tingkat S2.

Pada bagian inilah kamu juga dapat secara bebas mengelaborasikan berbagai kebolehanmu lewat pengalaman dan prestasi yang kamu miliki baik saat kuliah (lewat kegiatan belajar dan organisasi kemahasiswaan) maupun pengalaman kerja bagi yang sudah bekerja. Menggunakan cara ini, kamu dapat meyakinkan universitas akan bahwa kamu mampu belajar mengikuti standar kurikulum universitas di UK.

Catatan: Beberapa program studi mewajibkan kandidat magister untuk memiliki latar belakang S1 yang linier dengan program studi S2 pilihan. Jadi, pastikan kamu telah membaca dengan teliti program studi yang ingin kamu ambil agar memenuhi persyaratan akademis sebelum menulis motivation letter.

3. Relevansi studi dengan rencana karir setelah lulus

Sumber: Pexels

Universitas mana pun tentunya ingin menghasilkan lulusan yang berkualitas dan punya kontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, motivation letter sebaiknya dapat menjelaskan dengan baik bagaimana studi magister yang kamu ambil dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap rencana karirmu setelah lulus.

Rekan saya misalnya, mengambil studi pembangunan internasional karena memiliki aspirasi untuk menjadi pegawai publik yang mampu menganalisis dan menawarkan cara pandang baru dalam narasi pembangunan nasional. Di sisi lainnya, saya memutuskan untuk belajar pemasaran karena ingin mengembangkan industri digital dan kreatif yang berkontribusi dalam pemajuan ekonomi berbasis digital melalui ilmu yang saya pelajari.

Mengambil magister di luar negeri tentunya merupakan keputusan yang tidak diambil sembarangan. Melalui poin ini, kamu dapat menunjukkan keseriusanmu untuk belajar melalui rencana jangka panjang yang kamu paparkan.

Sebelum mengirim motivation letter, pastikan kamu:

  1. Tidak menulis hanya satu motivation letter untuk semua universitas yang kamu lamar.

Artinya, kamu harus memberikan usaha lebih untuk melakukan riset terhadap tiap universitas. Kawan saya membuat lima motivation letter yang berbeda dimana isinya disesuaikan dengan kriteria di atas dan profil masing-masing universitas yang tentunya berbeda. Meski agak merepotkan, justru hal ini membantu kita memetakan alternatif universitas mana saja yang menjadi tempat kita belajar nanti.
  1. Meninjau ulang tulisan (proofreading)

Proofreading adalah kegiatan yang nantinya akan sangat akrab denganmu di bangku perkuliahan S2. Jangan sungkan meminta bantuan dari teman atau kerabat untuk membaca kembali motivation letter yang sudah kamu tulis. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa motivation lettermu dapat dipahami maksudnya oleh orang lain -- selain diri kamu sendiri.
  1. Tidak menjiplak karya orang lain

Salah satu kesalahan terbesar dalam pembuatan motivation letter adalah menjiplak motivation letter orang lain; mengambil karya orang lain sebagai referensi adalah hal yang positif, tetapi meniru mentah-mentah tulisan orang lain sama saja dengan meremehkan kemampuanmu sendiri. Padahal, dengan menjadi orisinil, universitas dapat menilai bahwa kamu adalah kandidat yang berbeda dan pantas untuk diperhitungkan.

Selain itu, dengan terbiasa tidak melakukan plagiarisme, kamu akan membentuk suatu kebiasaan baik yang membantumu untuk ‘selamat’ dalam melakukan kegiatan akademik di kampus seperti penulisan esai, makalah, jurnal, presentasi, laporan, dan karya ilmiah lainnya. Plagiarisme sekecil apapun tidak akan ditolerir dalam dunia akademis, terutama di UK. Jadi, jangan giat melakukan plagiat, ya.
  1. Memenuhi poin-poin yang diminta oleh universitas

Tidak jarang, selain hal-hal penting yang sudah dibahas di atas, universitas tertentu memberikan daftar pertanyaan tambahan yang harus dijawab oleh kandidat mahasiswa. Biasanya ini bertujuan untuk mengetahui lebih rinci pengalaman yang kamu miliki. Selalu periksa kembali jenis motivation letter yang disyaratkan oleh universitas tujuanmu.

Demikianlah hal-hal yang menurut kami bersifat esensial keberadaannya dalam pembuatan motivation letter. Proses yang kami lewati dalam membuat motivation letter memang membutuhkan niat dan usaha yang tidak sedikit, tetapi proses tersebut lah yang justru membuat kami semakin sadar bahwa kesempatan untuk mengenyam pendidikan S2 di luar negeri tidak boleh disia-siakan, apalagi dianggap sepele.

Semoga tulisan kami menjadi sumbangan motivasi bagi para pembelajar di Indonesia yang sedang bersemangat mengejar studi di luar negeri :)

---
Artikel ini juga telah dipublikasikan di IDN Times

Sedikit pesan dari bapak Presiden RI :)



Sunday, September 11, 2016

Beasiswa Pemerintah Buat si Cina: Patahkan Stigma Buruk Pemerintah Indonesia


Prolog
Sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 Juni 2016, saya mendapatkan keputusan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan bahwa saya dinyatakan sebagai salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia. Apakah saya merasa senang mendengar berita tersebut? Pasti. Akan tetapi, terdapat pelajaran yang lebih berharga di balik nilai sebuah beasiswa yang berarti layaknya hasil sebuah kerja keras. Pelajaran tersebut ingin saya bagikan melalui tulisan ini.
---

Pilihan, Usaha, dan Hasil

Semua dimulai ketika saya telah bekerja hampir dua tahun semenjak lulus kuliah. Setelah melakukan berbagai pertimbangan dan perenungan, saya memutuskan untuk mengejar keinginan saya untuk kuliah S2 dan berburu beasiswa untuk dapat membiayainya. Oleh karena itu, saya lalu melakukan berbagai riset (mencari informasi secara online dan dengan bertanya kepada teman-teman), mempersiapkan diri, dan akhirnya memilih untuk mendaftar ke program Beasiswa Pendidikan Indonesia, salah satu program beasiswa yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan - Kementerian Keuangan RI.
Begitu besar harapan saya agar mendapatkan beasiswa ini, apalagi sebelumnya saya telah menghabiskan waktu satu tahun untuk berdebat dengan diri sendiri, berusaha mengalahkan ego dan rasa takut akan kegagalan – bahkan sebelum saya mencoba. Maka, saya begitu mantap mendaftarkan diri saya ke batch pertama seleksi beasiswa LPDP di tahun 2016.

Ternyata hasil seleksi tersebut jauh dari apa yang saya harapkan. Ya, saya tidak lolos seleksi. Saya masih ingat dengan begitu jelas bagaimana saya mempersiapkan diri untuk seleksi substantif yang merupakan seleksi akhir di batch pertama tersebut. Seleksi substantif LPDP terdiri dari tiga jenis seleksi: seleksi penulisan esai di tempat (on the spot essay), Leaderless Group Discussion, dan wawancara. Pengalaman tersebut merupakan yang pertama bagi saya; saya belum pernah mengikuti seleksi penerimaan beasiswa apapun sebelumnya. Jadi, proses tersebut begitu menegangkan dan membuat saya gugup.

Sayangnya, kegugupan tersebut lah yang membuat saya tidak menjadi diri saya sendiri saat menghadapi seleksi. Saat mengerjakan esai dan mengikuti Leaderless Group Discussion performa saya jauh dari maksimal. Ditambah lagi, pada saat wawancara, kegugupan saya membuat saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tim seleksi dengan tenang. Alhasil, saya tidak dapat menyampaikan latar belakang, tujuan, dan rencana studi saya dengan baik. Firasat saya yang kurang baik terhadap seleksi itu pun terbukti benar saat hasil seleksi diumumkan melalui surat elektronik. Tulisan TIDAK LULUS berwarna merah terang dan ukuran yang begitu besar memberikan perasaan yang terlampau mirip dengan mendapatkan nilai jeblok saat ujian sekolah, tetapi sebenarnya lebih serupa lagi dengan perasaan saat mengalami patah hati.

Ditambah lagi, perasaan sedih karena ketidaklolosan saya tidak hanya disebabkan oleh perasaan gagal, tetapi juga karena saya merasa mengecewakan orang-orang yang telah percaya dan mendukung saya. Ketika orang tua saya bertanya mengenai hasil seleksi tersebut dengan penuh harapan, dengan berat hati saya menjawab bahwa saya belum lolos seleksi di tahap ini.

Tidak Familiar dengan Beasiswa Pemerintah

Sebagai informasi, keluarga saya adalah keluarga etnis Tionghoa yang tidak begitu akrab dengan beasiswa pemerintah, begitu pula dengan kerabat-kerabat saya. Keinginan saya untuk bersekolah S2 dengan beasiswa pemerintah sempat memunculkan berbagai keresahan. Sempat pula orang tua saya, yang adalah pegawai swasta dengan latar belakang pendidikan sarjana S1, beranggapan bahwa lebih baik saya mengejar tangga karir dengan bekerja di perusahaan yang besar dan stabil daripada kembali bersekolah. Namun, setelah diskusi dan penjelasan yang panjang, pada akhirnya kedua orang tua saya begitu mendukung keinginan saya ini. Kemudian, beritanya pun tersebar kepada para kerabat saya di keluarga besar. Saya berusaha memaklumi, karena keluarga besar saya memiliki kultur keluarga yang senang berbagi informasi ‘update’ mengenai keluarga masing-masing, apalagi yang terkait dengan perkembangan anak-anak. Walaupun bukan harapan saya agar informasi ini menyebar viral, tentunya dukungan-dukungan yang ada tetap saya jadikan dorongan dan sumber motivasi.
"Kalau kamu dapat beasiswanya, kamu nggak dikontrak untuk bekerja di instansi pemerintah kan?" dengan tatapan bergidik ngeri. Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapatkan dari orang lain saat tahu bahwa saya mendaftar ke program beasiswa yang dikelola pemerintah.

Sayangnya, karena begitu banyak kerabat yang mengetahui mengenai proses seleksi beasiswa yang saya ikuti ini, tentu mereka juga akan menanyakan hasilnya. Saya langsung memprediksi bahwa mama saya akan dihujani pertanyaan mengenai hasil seleksi yang telah saya lewati. “Gimana, si Janet dapat nggak beasiswanya?”


Gagal: Di antara Meritokrasi dan Diskriminasi

Banyak yang bilang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tetapi saya tidak dapat memungkiri betapa harapan saya hancur mengetahui saya tidak lolos seleksi. Perasaan ditolak tidak akan pernah menjadi perasaan yang menyenangkan, dan kadang seolah-olah hidup enggan untuk memberikan hasil yang setimpal dengan kerja keras dan pengorbanan yang kita lakukan. Maka, menghadapi kegagalan tersebut, saya hanya berharap orang-orang yang mengetahuinya hanya akan memberikan saya dukungan yang lebih besar dan teriakan semangat yang lebih keras.

Mama saya yang mengerti hal tersebut, tidak pernah lupa memberitahu saya reaksi kerabat-kerabat saya yang satu persatu mengetahui hasil seleksi tersebut dari sang mama. Ada yang kasihan, ada yang terus menyemangati. Saya merekam satu persatu pesan-pesannya, merasa berterima kasih. Sampai suatu hari, di antara sejumlah reaksi yang saya terima, datang sebuah reaksi yang begitu menampar saya.
"Diskriminasi banget sih!" ujar salah satu kerabat saya begitu mengetahui saya tidak lolos.

"Diskriminasi? Diskriminasi apa?" pikir saya, mengernyitkan dahi dengan intensnya. 
Duka akan kegagalan saya seketika memudar. Saat itu, yang kemudian justru membuat saya terganggu bukan lagi rasa bersalah saya karena telah memupuskan harapan orang lain, melainkan reaksi berupa prasangka buruk yang berusaha memberikan justifikasi bahwa ketidaklolosan ini adalah hasil tindakan diskriminatif. Ya, saya dianggap tidak lolos karena saya berasal dari etnis Tionghoa yang merupakan kaum minoritas di Indonesia.

Saya yang awalnya merasa begitu kecewa karena tidak lolos seleksi, menjadi jauh lebih kecewa karena kegagalan saya dianggap lumrah. Ketika reaksi yang saya ekspektasikan adalah "Wah, nggak apa-apa. Coba lagi ya! Lebih semangat mempersiapkan seleksi selanjutnya ya. Kamu pasti bisa!" yang saya dapatkan adalah "Wah, wajar itu. Pantas saja kamu nggak mendapatkan beasiswa, namanya juga beasiswa pemerintah, ya pasti yang diberikan kebanyakan anak-anak pribumi saja."
Rasa geram dan sedih pun bercampur menjadi satu. Pandangan dan prasangka mereka terhadap negeri ini begitu buruknya, sampai-sampai sebuah lembaga negara yang profesional pun diragukan profesionalitasnya.

Menurut saya, pemikiran seperti ini keliru.

Subjektifitas pasti ada dalam seleksi manapun, tidak hanya satu beasiswa saja, tetapi beasiswa manapun. Ini juga berlaku di dalam seleksi masuk kerja. Mengapa? Karena proses seleksi tidak cukup hanya melihat prestasi akademis maupun kemampuan yang dapat diukur secara kuantitatif. Seleksi wawancara yang memiliki bobot terbesar pun menjadi sesuatu yang lumrah, karena hanya lewat seleksi wawancara lah tim seleksi dapat berkomunikasi langsung dan mengetahui nilai-nilai  maupun tujuan yang dipegang oleh peserta seleksi. 

Hal-hal tersebut menjadi tolak ukur terbesar keberhasilan dalam suatu seleksi karena seleksi adalah sebuah proses perekrutan calon anggota ke dalam suatu kelompok, badan, atau organisasi yang membutuhkan keseragaman visi dan misi pesertanya.
“Saya berpikir bahwa saya tidak lolos karena belum dapat memenuhi kriteria, tapi tidak pernah sedikitpun saya menarik kesimpulan bahwa kriteria tersebut adalah menjadi seorang pribumi.”

Saat itu, ingin rasanya saya membantah dengan berkata: "Bukan. Salah. Saya tidak lolos seleksi bukan karena saya adalah seorang keturunan Tionghoa seperti yang kalian pikirkan, melainkan karena saya tidak mempersiapkan diri dengan baik.", tapi tentu akan sia-sia kalau tidak dibuktikan melalui tindakan. Maka, saat pendaftaran tahap kedua seleksi LPDP di tahun 2016 dibuka, saya berusaha mempersiapkan diri lebih baik dan kembali mendaftar. Saya tidak lagi hanya bersemangat lebih besar untuk meraih kesempatan belajar dan membangun kualitas diri yang kelak dapat menyumbangkan kontribusi bagi Indonesia, tetapi juga untuk membuktikan bahwa prasangka tersebut salah besar.

Tepat pada tanggal 10 Juni 2016, saya berhasil membuktikannya. Saya lolos seleksi substantif yang merupakan seleksi terakhir program Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan - Kementerian Keuangan RI. Saya lolos.
Dan terakhir kali saya cek, saya masih keturunan Tionghoa tuh. *badumtsss*
Saya memang keturunan Tionghoa, tapi saya orang Indonesia, lahir dan dibesarkan di tanah air ini. Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas. Harapan saya, stigma negatif pemerintah Indonesia akan semakin memudar, seiring dengan bertambahnya instansi pemerintahan yang menjunjung tinggi integritas, profesionalitas, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan.
Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas.
 ---

Epilog

"Ci! Ci! Cina! Cina!" sekelompok remaja laki-laki dari seberang jalan berteriak-teriak sambil tertawa dan menunjuk-nunjuk saya dan dua orang teman saya yang kebetulan juga keturunan Tionghoa, di perjalanan menuju sekolah. Bagi mereka hal itu lucu -- bagi saya, itu sangat menakutkan. 

Sebenarnya saya memahami bahwa mungkin setiap keturunan Tionghoa di Indonesia memiliki setidaknya satu pengalaman yang buruk dengan adanya diskriminasi terhadap etnis, budaya, maupun agama. Saya pun tidak mudah mengabaikan panggilan-panggilan iseng yang dianggap harmless tapi menurut saya mengintimidasi. Maksud saya, tidak mungkin mereka paham bahwa hal kecil seperti itu membuat saya ngilu mengingat cerita kerusuhan di tahun 1998, dimana banyak wanita keturunan Tionghoa menjadi menjadi korban pemerkosaan.

Jadi, saya tidak akan memaksa para pembaca, khususnya yang pernah mengalami diskriminasi ataupun bullying dalam bentuk apapun di masa lampau, untuk melupakan begitu saja apa yang telah terjadi. Yang terjadi memang sudah terjadi. Tetapi negeri ini hanya akan semakin maju apabila kita berpikiran terbuka dan pelan-pelan meninggalkan prasangka buruk terhadap orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Jika seseorang melakukan hal yang tidak adil kepada orang lain, itu kesalahannya, bukan kesalahan sukunya, etnisnya, agamanya, atau apapun golongan lainnya yang cenderung digeneralisasikan.

Bayangkan, tanpa ribuan penilaian keliru yang kita buat, berapa juta musuh yang dapat seketika berubah menjadi sahabat?

"Our privilege to make personal judgment based on our experiences should never stop us from being open-minded and kind to everyone.” – Janet Valentina

Until next post,

Janet.

Tuesday, May 10, 2016

30 Hari Tanpa Social Media: Waras atau Gila?

Media Sosial: Lingkaran tiada akhir


Buka Facebook, scrolling di News Feed untuk mengecek sudah ada berita terbaru atau artikel terbaru apa lagi yang sedang viral, lucu, atau seru untuk di-share. Bosan, pindah ke aplikasi Path, biasanya ada meme terbaru yang menggoda hati untuk di repath, mulai dari yang berbau politik sampai yang berbau praktik bullying terhadap orang-orang jomblo dan orang-orang yang tinggal di dekat matahari (kalau anda punya Path pasti ngerti maksud saya). Setelah Path sudah habis dibaca-baca, pindah ke Twitter untuk melihat ada quote-quote apa yang bisa diretweet. Masih bosan? Pindah lagi ke Instagram untuk sekedar nge-like foto-foto makanan yang cantik dan rata-rata harganya setara uang kos sebulan, sambil nge-post foto-foto yang bisa kita kasih hashtag #latepost atau #throwback atau #foodporn.

Hidup yang bergantung pada Timeline

Sepertinya hidup orang-orang di zaman sekarang ini tidak pernah lepas dari social media. Sudah kronis ketergantungannya. Hal ini membawa saya kembali pada sebuah fenomena mengejutkan yang saya temukan di tahun 2014 silam. Saat itu, saya pergi bersama beberapa rekan kerja untuk melakukan consumer visit di pinggiran kota yang bertujuan mengetahui kebiasaan ibu rumah tangga dalam menggunakan teknologi digital dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Di sana, saya berkesempatan mewawancarai seorang ibu rumah tangga, sebut saja Ibu Ani. Ibu Ani mengurus rumah tangga dan dua orang anak, sedangkan suaminya mencari nafkah sebagai satpam gedung dan kuli bangunan di sela-sela waktunya. Rumah yang mereka tinggali bisa dibilang sangat kecil, cenderung kotor dan kurang terawat. Alat-alat elektronik penting yang dapat membantu kegiatan rumah tangga Ibu Ani sehari-hari, seperti televisi dan mesin cuci, sudah rusak dan belum juga direparasi. Alat transportasi yang digunakan keluarga mereka sehari-hari, yaitu sebuah sepeda motor, masih belum lunas cicilan.
Lalu, tiba-tiba ibu Ani membuat saya merasa seakan tersambar petir saat dia mengutarakan ke saya bahwa dia paling tidak bisa hidup tanpa telepon genggamnya, sebuah Blackberry Gemini. Saya tanya, mengapa? Karena melalui BB Gemini ini, ia dapat mengakses Facebook untuk berkomunikasi dengan teman-teman arisan atau pengajian sekampung. Saat butuh hiburan, ibu ini membaca guyonan-guyonan ala Betawi yang ada di halaman Facebook yang ia sukai. Tidak heran saat rekan saya memberikan pertanyaan follow-up, "Hadiah apa yang ibu harapkan dari kemasan cairan pencuci piring?" Ibu Ani tidak menjawab mobil, perhiasan, atau rumah. Terpatri di ingatan, ekspresi wajah Ibu Ani saat menjawab dengan malu-malu "Pulsa, mbak. Supaya saya bisa beli paket data."

Melangkah keluar dari zona nyaman

Fenomena seperti ini yang lalu membuat saya mempertanyakan diri saya sendiri, kemudian merasa tertantang untuk untuk menguji diri saya sendiri.

Makanya, saat sahabat saya tiba-tiba bilang "Bisa nggak, cuma menggunakan 2 jenis social media dalam waktu sebulan?" , dalam hati saya menjawab, "Kenapa tidak sekalian saja hidup tanpa social media  dalam waktu sebulan?" I  mean, why not? sepertinya akan jadi pengalaman yang seru. Serta merta saya menjawab, "Ok, I'm in!" dan petualangan baru pun dimulai.

Prosesnya..

Memulai komitmen iseng tapi menantang yang saya sudah tentukan ini, akhirnya saya menghapus/uninstall seluruh aplikasi social media yang saya miliki. Iya, semuanya. Facebook, Path, Twitter, dan Instagram, Tapi ini bukan berarti saya boleh mengakses social media tersebut menggunakan komputer/desktop.

Let me tell you, seminggu pertama hidup saya tanpa social media bisa dikatakan cukup menarik. Kedua jempol yang punya muscle memory sangat hebat ini biasanya akan secara otomatis meng-unlock smartphone saya dan membuka folder "Social Media" dan menemukan bahwa... tidak ada aplikasi social media. Kemudian suatu pagi yang cerah teman kantor tiba-tiba berkata "Eh net.. Tau nggak video soal bla bla yang lagi heboh banget itu di Facebook?" dan saya cuma bisa bengong karena tidak tahu menahu soal itu. Tidak jarang saya suka merasa gelisah tidak jelas, pori-pori kulit mengeluarkan butir-butir keringat sebesar biji jagung. Belum lagi, tiba-tiba saya terserang bakteri Typhus dan harus menghabiskan waktu sekitar 10 hari di rumah untuk melakukan istirahat penuh. Sempurna sudah penderitaanku, pikir saya.

Namun dengan semangat yang membara dan motivasi yang ditinggi-tinggikan, saya mencari cara untuk menggantikan "hiburan-hiburan" sehari-hari yang sekarang statusnya di-banned ini. Masa sih, hidup kebahagiaan saya hanya bergantung pada social media? 

Jadi, setelah riset mendalam perenungan sejenak, saya menemukan hal-hal yang dapat saya lakukan:

1. Memperkaya ilmu melalui video di YouTube


No, I was not cheating. YouTube bukan social media (untungnya bukan) jadi saya masih bisa menikmati nonton video-video musik, talkshow, movie trailers, dan sebagainya. Sebagian waktu yang saya habiskan saat menonton Youtube juga memberikan saya banyak pengetahuan, seperti tutorial memasak, Do It Yourself, dan masih banyak lagi. Tidak lagi mengherankan kalau saya bisa menemukan berbagai macam konten video yang berguna di sini, karena mesin pencarian milik Youtube adalah yang terbesar kedua setelah mesin pencarian Google.


2. Download apps portal berita (Kompas, DetikCom, Flipboard) dan mulai membaca


Teman-teman saya mengira saya kesambet saat memergoki saya membaca sebuah artikel berita melalui salah satu aplikasi pembaca berita yang saya install sebagai pengganti aplikasi social media, Flipboard. Wajar saja mereka hampir kejang-kejang dengan mulut berbusa, wong biasanya mata saya terpaku berjam-jam pada layar hp untuk melihat dan mengomentari kegiatan orang lain di lini masa. Tapi kebiasaan baru ini lebih-lebih merupakan eye opener bagi saya. Saya menyadari, topik-topik tertentu yang sedang hot di social media agak, atau bahkan sangat patut dipertanyakan kebenarannya. Artikel dengan sumbernya yang seringkali tidak terpercaya terkadang justru lebih mudah tersebar secara viral karena mengandung unsur-unsur yang fantastis, mengejutkan, sulit dipercaya, dan sangat menarik untuk dibagikan untuk menjadi bahan obrolan bersama teman-teman. Mulut pun rasanya gatal ingin berkata, "Eh lo tau nggak siiih...?". And, you have that share button on your fingertips.
Social media meningkatkan keingintahuan besar akan hal-hal baru dan terkini, namun sayangnya juga membudayakan kebiasaan membaca tidak baik yang diadaptasi sebagian besar anak muda saat ini : TL;DR, alias Too long, did not read. 
Menurut saya sih, budaya TL;DR ini sudah bertransformasi artinya menjadi Too Lazy, Did not read, karena ketidakakuratan informasi yang diserap bukan hanya disebabkan malas membaca artikel terlalu panjang, tapi juga malas melakukan verifikasi kebenaran sumber berita atau konten artikel yang dibaca.

Berkat membaca artikel-artikel berita alih-alih menyimak timeline di social media, ternyata literasi media saya jadi sedikit banyak lebih terasah. Amin.


3. Fokus pada diri sendiri


Jangan salah, terlepas dari dunia social media awalnya memang menyiksa jiwa dan raga, mungkin ibarat berusaha lepas dari kecanduan obat-obatan terlarang. Lho, saya nggak bercanda, belakangan ini ketakutan yang disebut Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal, baik itu ketinggalan berita terbaru sampai takut kehilangan kesempatan mengaktualisasikan diri, melanda sebagian besar generasi muda di Indonesia dan dunia internasional. Saya yakin sebagian besar pembaca pernah terpengaruh publikasi teman di sosial media, misalnya membandingkan keadaan diri, pencapaian pribadi, atau jadi terlalu lama merenung (kadang cenderung meratapi) dan bertanya "Apakah saya cukup baik? Sepertinya teman-teman saya lebih baik, lebih bahagia.." dan lebih sebagainya.
Mengambil istirahat dari pemakaian social media menjadi langkah baru yang saya ambil untuk melakukan apa yang penting namun saya sering lupakan, yaitu menjadi diri saya sendiri dan mensyukuri (mensyukuri ya, bukan nyukurin) apa yang saya miliki. 
Teman punya mobil baru? Liburan ke luar negeri setiap minggu? Terus kenapa? Saya nggak perlu secara konstan berusaha membuktikan kepada orang lain bahwa saya bahagia. Feeling content with myself is enough.

4. Spending time with those who matter


Berikut ini pertanyaan refleksi, yang bisa anda jawab dalam hati: seberapa sering anda merespon percakapan dengan teman, keluarga, dan orang-orang tersayang anda tanpa melepaskan pandangan dari layar smartphone? Andai hal ini adalah sebuah perbuatan kriminal yang melanggar hukum, mungkin sebenarnya saya sendiri sudah keluar masuk penjara, bahkan dihukum seumur hidup. Mungkin benar kata orang bahwa social media itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Ironisnya, hal ini sudah menjadi makanan sehari-hari.


Selama saya 'puasa' social media (dan waktu itu sakit typhus), saya menjadi lebih observant terhadap hal-hal sekitar dan lebih berusaha menjadi pendengar yang lebih baik terhadap orang-orang terdekat saya, karena saya nggak sibuk sendiri mengurusi 'kepoan' di social media. Singkat cerita, tali silaturahmi jadi semakin terjaga karena waktu yang kita habiskan dengan orang-orang yang kita sayangi menjadi lebih berkualitas. See how changing one small thing could create a big impact. Even better, a positive one.

Setelah hari ke 30..

Saya merasa terlahir kembali. Nggak, deng. 

Setelah melewati hari demi hari tanpa social media, saya mencapai suatu konklusi. Social media is social media, therefore it should not be less or more than that. 
Menggunakan media sosial memang asyik dan memudahkan kita untuk melakukan banyak hal (selayaknya fungsi sebuah bentuk teknologi) mulai dari komunikasi, mengabadikan momen-momen berharga dalam hidup, sampai mengakses informasi. Namun, social media tidak seharusnya mendikte bagaimana kita menjalani hidup, apalagi kalau sampai membuat kita merasa kurang berharga akibat perbandingan-perbandingan tidak berdasar. Sesuai dengan namanya, Social media adalah sebuah media. Jika social media adalah ribuan halaman kosong di mana semua orang dapat menuliskan ceritanya masing-masing, anda salah satu penulisnya. Have fun writing your own life.

© Janet Valentina
Maira Gall