challenge
Showing posts with label challenge. Show all posts

Wednesday, May 10, 2017

Wahai Millennial Pembelajar: Kenapa Harus Bayar Kalau Bisa Bertukar Ilmu?

Sumber:Pexels

Namanya juga millennials, tidak pernah lelah mencari hal-hal baru yang menarik, menggugah semangat, dan yang paling penting menghilangkan rasa jenuh. Di era digital yang gemerlap ini, kaum millennials (termasuk saya) selalu memiliki keinginan lebih untuk mencoba hal-hal baru meskipun sudah punya bidang yang digeluti. Padahal, tidak jarang generasi yang lebih senior geleng-geleng kepala sambil mengelus dada dan menggumam "Maunya apa sih mereka ini, sudah punya pekerjaan bukannya fokus."

Generasi yang banyak maunya, maunya banyak

Kaum millennials dinilai pasti selalu ada saja 'pingin'-nya. Contohnya, ingin kerja kantoran bergengsi tapi punya usaha sendiri (jualan mi babi misalnya -- oke saya bercanda) atau suka ambil proyek freelance kecil-kecilan di samping profesi sebagai karyawan di ahensi besar internasional. Merasa familiar? Welcome to #millennialslyfe.

Sebenarnya, apa sih yang dicari? Ada yang bilang secara gamblang kepada saya bahwa yang dikejar adalah uang tambahan, karena gaji dari pekerjaan sekarang kurang dari cukup untuk tabungan pernikahan. Very straightforward. Wajar kalau uang menjadi salah satu motivasi utama, sekaligus hal yang menakutkan bagi millennials yang katanya nggak akan bisa beli rumah.

Selain itu, ada juga yang memilih untuk mencari pekerjaan tambahan karena alasan lifestyle. Ada kok salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa uang yang ia dapatkan dari pekerjaan-pekerjaan sampingan ini ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan lifetsyle yang harus ia penuhi sebagai makhluk yang tinggal di tengah riuhnya kota Jakarta -- nongkrong, makan di restoran, dan sebagainya.

Kali ini, yang saya ingin bahas kali ini adalah sebuah kebutuhan lain dari kaum millennials dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, yaitu belajar.
"Belajar? yekali deh."
Loh iya, belajar. Walaupun terkesan membosankan dan terlampau serius, ini adalah sebuah fakta yang dihadapi sebagian besar millennials dalam usia produktifnya. Saya sendiri menyadari bahwa pekerjaan dengan gaji yang cukup saja justru tidak cukup, karena sifatnya fungsional. Kita membutuhkan gaji karena dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, alat tukar resmi yang digunakan adalah uang.

Belajar Apa yang Dimaksud?

Sumber: ellispond.com

Sekarang, coba lihat keadaan di sekitar. Berapa banyak temanmu yang sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya karena merasa 'gitu-gitu aja' karena tenggelam dalam rutinitas atau 'merasa tidak berkembang'? Pasti banyak. Menurut majalah Forbes, Pengembangan kemampuan diri (belajar) adalah salah satu manfaat kerja yang paling penting bagi kaum millennials. 

Saat kita tidak merasa belajar sesuatu, pada akhirnya kita akan merasa kurang 'hidup'. Istilah 'kurang hidup' ini ada banyak cara penyampaiannya, mulai dari 'ah, gw jenuh', 'kerjaan gue kurang challenging', 'butuh variasi', dan sebagainya. Jangan salah, keinginan belajar yang tidak terpenuhi ini bukan berarti disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang sekarang, lho. Menurut pendapat pribadi saya (boleh setuju boleh tidak), bisa dibilang orang-orang yang berhenti dari pekerjaannya karena kurang 'belajar' ini, sebenarnya lebih tepatnya kekurangan waktu untuk bisa melakukan eksplorasi dan belajar hal lain di luar pekerjaan tetap yang sudah menjadi tugasnya.

Kebutuhan untuk belajar ini hanyalah kebutuhan berbeda yang ingin didapatkan di luar bidang yang memang sudah ditekuni. Misalnya seorang akuntan, yang ingin mahir dalam berbagai bahasa. Atau seorang programmer, yang ternyata punya keinginan terpendam untuk jadi pelari marathon. Atau seperti saya, seorang digital marketer yang ingin belajar menulis, video editing, masak, lalu ah.... sudahlah.

Ide Mentah: Mempermudah yang Seharusnya Mudah

Sayangnya, banyak kendala yang dihadapi. Sebagian kendala yang paling sering ditemui adalah uang, karena walaupun terdapat banyak kursus, dari yang terpampang di mall sampai yang dipromosikan di akun-akun Instagram bertema kekinian, merogoh kocek pribadi untuk kursus seringkali terasa berat. Berangkat dari situasi ini dan kesadaran saya bahwa setiap orang diberkati dengan talenta yang berbeda-beda, maka tercetuslah sebuah ide yang saya sebut 'barter ilmu'.


Apa itu barter ilmu?

Sumber: Time Out London
Saya adalah salah satu orang yang percaya bahwa aset terbesar yang kita miliki adalah waktu. Harta, tahta, dan wanita sering jadi tujuan utama seseorang dalam menjalani hidup, tapi waktu tidak bisa kembali dan tidak bisa dibeli #eyaa. Kemudian, hal berharga apa lagi yang ketika dibagikan justru semakin bertambah dan tidak akan habis? Jawabannya adalah ilmu.

Sebelum kamu muntah baca tulisan barusan, please bear with me for another minute. 

Mungkin bukan saya orang pertama yang terpikirkan ide ini, tapi konsep barter ilmu yang saya pikirkan adalah proses dengan langkah-langkah seperti ini:

1. Menyadari kemampuan yang dimiliki

Pertama, pikirkan kemampuan apa yang kamu miliki. Tidak harus jago-jago banget- sesuai kemampuanmu saat ini saja. Ini bisa saja sesuatu yang sangat kamu suka, bisa yang sifatnya teknis seperti programming kalau anda anak IT yang suka coding (jelas saya bukan salah satunya), sampai hal-hal yang terkesan sepele tapi sebenarnya adalah sebuah talenta (sesederhana mengatur pose kece temanmu yang hobinya foto OOTD).

2. Ingin belajar apa?

Sudah ketemu? Masuk ke langkah kedua. Pikirkan apa kemampuan atau ilmu yang selama ini ingin kamu pelajari tapi terkendala berbagai hal. Mulai dari waktu, biaya (karena segala macam kursus, terutama yang ada di kota besar semakin nggak ngotak harganya), sampai niat (karena anda orang yang suka banyak alasan -- seperti saya). Ingin jago presentasi? Lebih disiplin waktu? Bisa masak? You name it. Sebagai awalan, cukup pilih salah satu.

3. Be the one they need, find the one you need

Selanjutnya, pikirkan siapa yang punya kemampuan ini dan mampu membagi ilmunya dengan baik. Kemudian, pikirkan siapa yang sekiranya akan tertarik untuk mempelajari ilmu yang kamu punya. Sudah? Cari orang yang memenuhi kedua kriteria di atas.

Lewat mana? Kamu bisa mencarinya lewat jaringan pertemananmu. Saya pribadi mengamati jaringan pertemanan saya lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter karena dari situ saya mendapatkan gambaran mengenai kemahiran teman-teman saya dan apa yang sekiranya mereka butuhkan.
Selain itu, melalui internet kamu bisa mulai aktif di forum atau media sosial. Rekomendasi pribadi saya untuk membangun jaringan profesional (sekaligus jaringan ilmu) adalah LinkedIn dan Quora.

4. Langkah berikutnya: shoot the question!

This could be a little tricky, but it actually challenges you to be able to 'market' yourself / your skills.
Misalnya, kamu ingin barter ilmu marketingmu dengan kemampuan mengedit video-video keren ala Youtuber yang dimiliki oleh temanmu.

Mulai dengan percakapan santai seperti ini: 'Hey, video-video yang lo buat keren banget efek-efeknya! belajar dari mana?' *kemudian dia akan menjawab 'oh gue belajar sendiri, oh gue ngeles' dan sebagainya*. Kemudian, karena kamu mengetahui bahwa dia adalah seorang Youtuber (misalnya) dan dia memerlukan pengetahuan lebih lanjut mengenai Youtube marketing -- sedangkan kamu paham betul bidang ini karena ini bidang pekerjaanmu -- kamu bisa bilang 'Eh, gimana kalau kita barter ilmu? Gue pengen belajar mengenai video editing dari lo, dan sebagai timbal baliknya gue bisa berbagi hal yang gue tahu mengenai Youtube marketing supaya Youtube channel lu banyak yang subscribe dan video views lu bertambah banyak. Gimana?'

What makes it so special?

Sumber: Pexels

This way, what you are offering to exchange is special: a free knowledge. Memang, belajar segala sesuatu secara gratis juga bisa dilakukan secara otodidak. Belajar bahasa asing misalnya, kamu bisa menemukan banyak free online course di situs-situs seperti iniBut having a friend who knows better about the field + guides you through your learning is certainly an advantage.

Selain itu, dengan saling bertukar ilmu, kamu tidak hanya bertambah pandai dalam ilmu 'gratis' yang kamu dapatkan dari temanmu ini -- kamu juga semakin pandai dalam ilmu yang kamu bagikan. Seperti pepatah "When you teach, you learn" dari seorang filsuf bernama Seneca: pada logika mendasarnya, untuk bisa mengajari atau berbagi ilmu dengan orang lain kamu tentu harus memiliki tingkat pemahaman tertentu. Berbeda dengan mengonsumsi ilmu untuk diri kita sendiri, agar dapat berbagi ilmu dengan baik kita harus jauh lebih memahami ilmu tersebut.
"This way, what you are offering to exchange is special: a free knowledge."
Ditambah lagi, ini bukan hanya sebuah pepatah atau teori, karena sudah terdapat berbagai studi yang membuktikan bahwa seseorang yang belajar membagikan ilmunya pada orang lain pada akhirnya akan menjadi jauh lebih paham akan ilmu itu sendiri. You will learn better.

Intinya? Kembali ke Preferensi Masing-masing

Memang, konsep ini dapat bertentangan dengan berbagai pendapat. Misalnya, ada yang merasa lebih baik kursus karena merasa mampu membayar dan tidak perlu 'menghabiskan' waktu mengajari orang lain. Kedua, mungkin sulit untuk menemukan ilmu yang dapat kamu bagikan kepada orang lain. Ketiga, mungkin kamu kurang percaya diri bahwa ilmu dan kemampuan yang kamu miliki cukup 'berharga' untuk dibagikan, apalagi ditukarkan dengan ilmu yang ingin kamu dapatkan dari orang lain.

Pertama, kalau memang kamu merasa punya uang dan lebih suka untuk bayar (menggunakan uang, tentunya) untuk kursus karena lebih sederhana dan tidak ribet serta adanya jaminan untuk belajar dari seseorang yang tersertifikasi (misalnya), then it's totally fine. Semua orang memiliki preferensinya sendiri dalam melakukan sesuatu dan saya menghormati itu. Tapi untuk kamu yang sedang mencari alternatif berbeda dalam menambah kemampuan atau belajar hal-hal baru, mungkin ini bisa jadi salah satu cara.

Kedua. Kamu merasa ilmu yang kamu punya kurang berharga? Mungkin kamu perlu berkunjung sebentar ke situs bernama Fiverr. Apa itu? Fiverr adalah sebuah situs online yang memungkinkan siapapun untuk menawarkan jasanya dengan harga semurah $5 saja. Jangan salah, banyak orang yang mampu menjual jasa yang terkesan sepele, bahkan terlihat lucu dan sedikit nyeleneh seperti jasa edit dan pilih foto profil online dating di Tinder. Benar, sesederhana itu. Nah bedanya, dengan platform seperti ini, kamu bisa menjual apa saja dengan imbalan uang. Sedangkan dengan sistem barter ilmu, yang kamu dapatkan adalah ilmu. Masih merasa kamu tidak punya kemampuan apa-apa atau kemampuanmu tidak berharga?  Think again. Selain itu, ada banyak alasan kenapa kamu sebaiknya mulai berbagi ilmu walaupun kamu belum expert dalam suatu bidang. Ini salah satu artikel yang menjelaskannya dengan cukup baik.

---

Sampai pada poin ini, mungkin kamu yang membaca ini akan berpikir, "Will it be worth it?" "Will it work?". Sejujurnya, saya sendiri belum dapat menjamin, tapi saya ingin memulainya. Di dunia yang serba cinta uang saat ini memang terkesan mustahil untuk mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma, bukan? Wajar kalau ada banyak orang yang membaca artikel ini menjadi ragu, lalu skeptis.

Tapi, saya yakin bahwa saya bukan satu-satunya orang yang memiliki pemikiran bahwa ilmu lebih berharga daripada uang; uang mungkin dapat membuatmu kaya secara jasmani, tapi hanya ilmu yang dapat memenuhi jiwa dan akal budi.

Bagaimana menurutmu, apakah konsep barter ilmu ini menarik untuk ditindaklanjuti? Saya sih mau segera mencoba. Atau ada yang tertarik mencoba barter ilmu dengan saya? :))

"Kalau millennials seperti kita banyak maunya, apa barter ilmu bisa jadi salah satu solusi?"

Selamat berkontemplasi dan silakan berkomentar.

Tuesday, May 10, 2016

30 Hari Tanpa Social Media: Waras atau Gila?

Media Sosial: Lingkaran tiada akhir


Buka Facebook, scrolling di News Feed untuk mengecek sudah ada berita terbaru atau artikel terbaru apa lagi yang sedang viral, lucu, atau seru untuk di-share. Bosan, pindah ke aplikasi Path, biasanya ada meme terbaru yang menggoda hati untuk di repath, mulai dari yang berbau politik sampai yang berbau praktik bullying terhadap orang-orang jomblo dan orang-orang yang tinggal di dekat matahari (kalau anda punya Path pasti ngerti maksud saya). Setelah Path sudah habis dibaca-baca, pindah ke Twitter untuk melihat ada quote-quote apa yang bisa diretweet. Masih bosan? Pindah lagi ke Instagram untuk sekedar nge-like foto-foto makanan yang cantik dan rata-rata harganya setara uang kos sebulan, sambil nge-post foto-foto yang bisa kita kasih hashtag #latepost atau #throwback atau #foodporn.

Hidup yang bergantung pada Timeline

Sepertinya hidup orang-orang di zaman sekarang ini tidak pernah lepas dari social media. Sudah kronis ketergantungannya. Hal ini membawa saya kembali pada sebuah fenomena mengejutkan yang saya temukan di tahun 2014 silam. Saat itu, saya pergi bersama beberapa rekan kerja untuk melakukan consumer visit di pinggiran kota yang bertujuan mengetahui kebiasaan ibu rumah tangga dalam menggunakan teknologi digital dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Di sana, saya berkesempatan mewawancarai seorang ibu rumah tangga, sebut saja Ibu Ani. Ibu Ani mengurus rumah tangga dan dua orang anak, sedangkan suaminya mencari nafkah sebagai satpam gedung dan kuli bangunan di sela-sela waktunya. Rumah yang mereka tinggali bisa dibilang sangat kecil, cenderung kotor dan kurang terawat. Alat-alat elektronik penting yang dapat membantu kegiatan rumah tangga Ibu Ani sehari-hari, seperti televisi dan mesin cuci, sudah rusak dan belum juga direparasi. Alat transportasi yang digunakan keluarga mereka sehari-hari, yaitu sebuah sepeda motor, masih belum lunas cicilan.
Lalu, tiba-tiba ibu Ani membuat saya merasa seakan tersambar petir saat dia mengutarakan ke saya bahwa dia paling tidak bisa hidup tanpa telepon genggamnya, sebuah Blackberry Gemini. Saya tanya, mengapa? Karena melalui BB Gemini ini, ia dapat mengakses Facebook untuk berkomunikasi dengan teman-teman arisan atau pengajian sekampung. Saat butuh hiburan, ibu ini membaca guyonan-guyonan ala Betawi yang ada di halaman Facebook yang ia sukai. Tidak heran saat rekan saya memberikan pertanyaan follow-up, "Hadiah apa yang ibu harapkan dari kemasan cairan pencuci piring?" Ibu Ani tidak menjawab mobil, perhiasan, atau rumah. Terpatri di ingatan, ekspresi wajah Ibu Ani saat menjawab dengan malu-malu "Pulsa, mbak. Supaya saya bisa beli paket data."

Melangkah keluar dari zona nyaman

Fenomena seperti ini yang lalu membuat saya mempertanyakan diri saya sendiri, kemudian merasa tertantang untuk untuk menguji diri saya sendiri.

Makanya, saat sahabat saya tiba-tiba bilang "Bisa nggak, cuma menggunakan 2 jenis social media dalam waktu sebulan?" , dalam hati saya menjawab, "Kenapa tidak sekalian saja hidup tanpa social media  dalam waktu sebulan?" I  mean, why not? sepertinya akan jadi pengalaman yang seru. Serta merta saya menjawab, "Ok, I'm in!" dan petualangan baru pun dimulai.

Prosesnya..

Memulai komitmen iseng tapi menantang yang saya sudah tentukan ini, akhirnya saya menghapus/uninstall seluruh aplikasi social media yang saya miliki. Iya, semuanya. Facebook, Path, Twitter, dan Instagram, Tapi ini bukan berarti saya boleh mengakses social media tersebut menggunakan komputer/desktop.

Let me tell you, seminggu pertama hidup saya tanpa social media bisa dikatakan cukup menarik. Kedua jempol yang punya muscle memory sangat hebat ini biasanya akan secara otomatis meng-unlock smartphone saya dan membuka folder "Social Media" dan menemukan bahwa... tidak ada aplikasi social media. Kemudian suatu pagi yang cerah teman kantor tiba-tiba berkata "Eh net.. Tau nggak video soal bla bla yang lagi heboh banget itu di Facebook?" dan saya cuma bisa bengong karena tidak tahu menahu soal itu. Tidak jarang saya suka merasa gelisah tidak jelas, pori-pori kulit mengeluarkan butir-butir keringat sebesar biji jagung. Belum lagi, tiba-tiba saya terserang bakteri Typhus dan harus menghabiskan waktu sekitar 10 hari di rumah untuk melakukan istirahat penuh. Sempurna sudah penderitaanku, pikir saya.

Namun dengan semangat yang membara dan motivasi yang ditinggi-tinggikan, saya mencari cara untuk menggantikan "hiburan-hiburan" sehari-hari yang sekarang statusnya di-banned ini. Masa sih, hidup kebahagiaan saya hanya bergantung pada social media? 

Jadi, setelah riset mendalam perenungan sejenak, saya menemukan hal-hal yang dapat saya lakukan:

1. Memperkaya ilmu melalui video di YouTube


No, I was not cheating. YouTube bukan social media (untungnya bukan) jadi saya masih bisa menikmati nonton video-video musik, talkshow, movie trailers, dan sebagainya. Sebagian waktu yang saya habiskan saat menonton Youtube juga memberikan saya banyak pengetahuan, seperti tutorial memasak, Do It Yourself, dan masih banyak lagi. Tidak lagi mengherankan kalau saya bisa menemukan berbagai macam konten video yang berguna di sini, karena mesin pencarian milik Youtube adalah yang terbesar kedua setelah mesin pencarian Google.


2. Download apps portal berita (Kompas, DetikCom, Flipboard) dan mulai membaca


Teman-teman saya mengira saya kesambet saat memergoki saya membaca sebuah artikel berita melalui salah satu aplikasi pembaca berita yang saya install sebagai pengganti aplikasi social media, Flipboard. Wajar saja mereka hampir kejang-kejang dengan mulut berbusa, wong biasanya mata saya terpaku berjam-jam pada layar hp untuk melihat dan mengomentari kegiatan orang lain di lini masa. Tapi kebiasaan baru ini lebih-lebih merupakan eye opener bagi saya. Saya menyadari, topik-topik tertentu yang sedang hot di social media agak, atau bahkan sangat patut dipertanyakan kebenarannya. Artikel dengan sumbernya yang seringkali tidak terpercaya terkadang justru lebih mudah tersebar secara viral karena mengandung unsur-unsur yang fantastis, mengejutkan, sulit dipercaya, dan sangat menarik untuk dibagikan untuk menjadi bahan obrolan bersama teman-teman. Mulut pun rasanya gatal ingin berkata, "Eh lo tau nggak siiih...?". And, you have that share button on your fingertips.
Social media meningkatkan keingintahuan besar akan hal-hal baru dan terkini, namun sayangnya juga membudayakan kebiasaan membaca tidak baik yang diadaptasi sebagian besar anak muda saat ini : TL;DR, alias Too long, did not read. 
Menurut saya sih, budaya TL;DR ini sudah bertransformasi artinya menjadi Too Lazy, Did not read, karena ketidakakuratan informasi yang diserap bukan hanya disebabkan malas membaca artikel terlalu panjang, tapi juga malas melakukan verifikasi kebenaran sumber berita atau konten artikel yang dibaca.

Berkat membaca artikel-artikel berita alih-alih menyimak timeline di social media, ternyata literasi media saya jadi sedikit banyak lebih terasah. Amin.


3. Fokus pada diri sendiri


Jangan salah, terlepas dari dunia social media awalnya memang menyiksa jiwa dan raga, mungkin ibarat berusaha lepas dari kecanduan obat-obatan terlarang. Lho, saya nggak bercanda, belakangan ini ketakutan yang disebut Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal, baik itu ketinggalan berita terbaru sampai takut kehilangan kesempatan mengaktualisasikan diri, melanda sebagian besar generasi muda di Indonesia dan dunia internasional. Saya yakin sebagian besar pembaca pernah terpengaruh publikasi teman di sosial media, misalnya membandingkan keadaan diri, pencapaian pribadi, atau jadi terlalu lama merenung (kadang cenderung meratapi) dan bertanya "Apakah saya cukup baik? Sepertinya teman-teman saya lebih baik, lebih bahagia.." dan lebih sebagainya.
Mengambil istirahat dari pemakaian social media menjadi langkah baru yang saya ambil untuk melakukan apa yang penting namun saya sering lupakan, yaitu menjadi diri saya sendiri dan mensyukuri (mensyukuri ya, bukan nyukurin) apa yang saya miliki. 
Teman punya mobil baru? Liburan ke luar negeri setiap minggu? Terus kenapa? Saya nggak perlu secara konstan berusaha membuktikan kepada orang lain bahwa saya bahagia. Feeling content with myself is enough.

4. Spending time with those who matter


Berikut ini pertanyaan refleksi, yang bisa anda jawab dalam hati: seberapa sering anda merespon percakapan dengan teman, keluarga, dan orang-orang tersayang anda tanpa melepaskan pandangan dari layar smartphone? Andai hal ini adalah sebuah perbuatan kriminal yang melanggar hukum, mungkin sebenarnya saya sendiri sudah keluar masuk penjara, bahkan dihukum seumur hidup. Mungkin benar kata orang bahwa social media itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Ironisnya, hal ini sudah menjadi makanan sehari-hari.


Selama saya 'puasa' social media (dan waktu itu sakit typhus), saya menjadi lebih observant terhadap hal-hal sekitar dan lebih berusaha menjadi pendengar yang lebih baik terhadap orang-orang terdekat saya, karena saya nggak sibuk sendiri mengurusi 'kepoan' di social media. Singkat cerita, tali silaturahmi jadi semakin terjaga karena waktu yang kita habiskan dengan orang-orang yang kita sayangi menjadi lebih berkualitas. See how changing one small thing could create a big impact. Even better, a positive one.

Setelah hari ke 30..

Saya merasa terlahir kembali. Nggak, deng. 

Setelah melewati hari demi hari tanpa social media, saya mencapai suatu konklusi. Social media is social media, therefore it should not be less or more than that. 
Menggunakan media sosial memang asyik dan memudahkan kita untuk melakukan banyak hal (selayaknya fungsi sebuah bentuk teknologi) mulai dari komunikasi, mengabadikan momen-momen berharga dalam hidup, sampai mengakses informasi. Namun, social media tidak seharusnya mendikte bagaimana kita menjalani hidup, apalagi kalau sampai membuat kita merasa kurang berharga akibat perbandingan-perbandingan tidak berdasar. Sesuai dengan namanya, Social media adalah sebuah media. Jika social media adalah ribuan halaman kosong di mana semua orang dapat menuliskan ceritanya masing-masing, anda salah satu penulisnya. Have fun writing your own life.

© Janet Valentina
Maira Gall